Rabu, 08 September 2010

SEMANGAT BEKERJA


Beramal-lah !

Karena setiap orang akan dipermudahnya 

"Tidak ada seorang yang memakan makanan yang lebih baik daripada seseorang yang makan dari hasil kerja tangannya sendiri. dan nabi daud as. makan dari hasil kerja tangannya.



Tidak ada mahluk melata di muka bumi ini kecuali jatah penghidupan-nya telah dijamin Allah [QS:Hud:6] – Manusia ditunjuk sebagai Khalifah (pemakmur) bumi juga dimuliakan oleh Allah subhanawata alla. Itulah yang dikehendaki oleh Allaah subhanawata alla. Telah ditetapkan sebuah sistim berupa sebab dan akibat dalam kehidupan manusia di muka bumi ini agar kita sebagai manusia yang Allah telah karuniakan akal agar bisa menghidupkan system ini di jalan Allaah.

Saya mungkin berpikir kemuliaan itu diukur dari sebuah usaha kita dalam pencapaian itu. Ada Doa ada Usaha juga ada kesabaran. Lalu seluruh urusan diserahkan hanya kepada Allaah semata. Semua Usaha kita hanya bernilai dari niat ke – ikhlasan kita kepada Allaah subhanawata alla yang maha pengasih dan maha penyayang

Kemuliaan berusaha
Allah berfirman, "Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan Ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung." (Al-jum'ah:10)

"Inilah konsep tawazun yang ditegaskan oleh manhaj Islam. Tawazun di antara tuntutan hidup di muka bumi ini. Di antara kerja, aktivitas, upaya, dan mencari nafkah pada suatu saat dan pada saat yang lain mengisolasi ruh dan hati dari semua kesibukan itu dalam kekhusyukan dzikir kepada Allah..." demilian penulis Tafsir "Fii Zhihalil Qur'an", Sayid Quthb, mengomentari ayat tersebut. (Fiizhilalil Qur'an)

JIka seseorang dapat menghidupi dirinya sendiri dan tanpa menggantungkannya kepada orang lain. Apa lagi melalui usahanya banyak orang bergantung kepadanya.

sabda Rasulullah saw., عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ الْمِقْدَامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ - khalid bin Ma'dan meriwayatkan dari Miqdam ra. dan dari Rasulullah saw. beliau bersabda, "Tidak ada seorang yang memakan makanan yang lebih baik daripada seseorang yang makan dari hasil kerja tangannya sendiri. dan nabi daud as. makan dari hasil kerja tangannya." (Bukhari)

Bisa jadi seseorang dianggap hina oleh kacamata dunia karena profesinya, namun sesungguhnya menurut parameter akhirat ia sangat mulia, bahkan lebih mulia ketimbang mereka yang memiliki status sosial tinggi karena melimpahnya kekayaan bumi namun bukan dari perasaan peluhnya sendiri. Rasulullah membandingkan kemuliaan orang yang mencari kayu bakar dengan yang hanya meminta-minta kepada manusia. Tentu saja jika sebuah usaha dibingkai dengan bingkai ibadah kepada Allah :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ ثُمَّ يَغْدُوَ أَحْسِبُهُ قَالَ إِلَى الْجَبَلِ فَيَحْتَطِبَ فَيَبِيعَ فَيَأْكُلَ وَيَتَصَدَّقَ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ

“Sekiranya salah seorang di antara kalian mengambil talinya lalu berangkat (perawi: saya kira beliau mengatakan) ke gunung kemudian mengumpulkan kayu bakar lalu menjualnya dan memakan (dari hasilnya) serta menyedekahkannya, itu lebih baik daripada ia meminta-minta orang.” (Bukhari).

Abu Hamid Al-Ghazi menyebutkan dalam Ihya'-nya, bahwa Rasulullah pernah duduk-duduk bersama para sahabatnya pada suatu hari. tiba-tiba mereka melihat seorang pemuda yang berkulit kasar dan kuat. pagi2 ia  bekerja. mereka (para sahabat) berkomentar, "sayang sekali orang ini, kalau saja masa mudanya dan kekerasan tubuhnya itu berada di jalan Allah."
Rasulullah bersabda, " Jangan berkata seperti itu, sebab jika ia berusaha untuk menjaga dirinya agar tidak meminta-minta serta mencukupkan dirinya dari orang lain, maka ia berada di jalan Allah. atau jika ia bekerja untuk kedua orang tua yang lemah dan keluarga yang lemah untuk membuat mereka kaya dan cukup, maka ia berada dijalan Allah. Namun kalau ia bekerja untuk berbangga diri dan berbanyak-banyak harta, maka ia berada di jalan setan."

Peran manusia sanggup berusaha dan mengoptimalkan potensi yang Allah berikan kepadanya. Menggerakan semua kemampuan dan menjadikan pengalaman sebagai bekal untuk menyelesaikan solusi – solusi di dunia usahanya. Menyusun strategi yang baik dan menutupi berbagai kekurangan yang mungkin menjadi kendala. Juga mengevaluasi kinerja yang mungkin menjadi penyebab kegagalan. Tidak Lupa berdoa. Ingatlah semua merupakan hak Allaah kepada siapa Allaah berkehendak akan memberikan rizkinya kita serahkan segalanya kepada Allaah.

sebagai implementasi dari surat Al-Jumuah ayat 10 tadi, seorang sahabat Nabi saw., "arak bin mali ra, setiap kali usai shalat jum'at, ia keluar dan berhenti di pintu mesjid seraya berdoa, "Ya Allah, aku telah menyambut seruan-Mu, shalat melaksanakan kewajiban-MU, lalu aku menyebar sebagaimana perintah-My. maka berilah rezki dari karunia-My karena Engkaulah sebai-baik pemberi rezki." (Ibnu Katsir)

Doa setelah atau ketika bekerja adalah representasi seorang hamba terhadap keterbatasan dirinya sekaligus pengakuannya akan kekuasaan rabbnya. sebagai bentuk pengesaan Rububiyah Allah. Bahwa Allah-lah zat yang memberi rezki. Di tangan-Nya segala kebaikan. Allah berhak memberikannya kepada siapa yang dikehendaki dan menahannya dari siap yang dikehendaki.

Doa dan Takdir

Mungkin ada terusik oleh sebuah pertanyaan, apakah doa yang dipanjatkan seseorang ketika ia bekerja akan mengubah jatah rezkinya yang merupakan takdir dari Allah?

Dikitabnya, Ad-Daa' wa Ad-Dawa', Ibnu Al-Qayyim Al - Jauziyah menjawab, "Takdir itu ditentukan Allah melalui beberapa sebab. Dan diantara sebabnya adalah doa. Allah tidak men-taqdir-kan sesuatu tanpa sebab. Allah juga menetukan sebab itu. Manakala seorang hamba melakukan sebab itu, maka takdir itu pun terjadi. seperti halnya takdir kenyang dan hilangnya dahaga dengan makan dan minum. taqdir lahirnya seorang anak melalui proses perkawinan. Taqdir makan daging binatang dengan menyembelihnya terlebih dahulu. termasuk taqdir masuk surga denagn amal perbuatan dan masuk neraka dengan amal perbuatan. Maka, Doa merupakan sebab paling penting untuk menggapai takdir."

Doa adalah ibadah yang disyariatkan Allah kepada hamba agar dalam berinteraksi dengan Allaah, perasaan harap dan keinginan kuat untuk mendapatkan apa yang di inginkannya tertancap di dalam dirinya dan jika seseorang mempunya keinginan kuat untuk mendapatkan dambaannya serta takut kehilangan dambaat tersebut, tentu hal itu akan semakin menggerakannya untuk berbuat dan mengoptimalkan usahanya.

Hasil yang dicapai tidak selamanya sesuai dengan usaha dan keimanan seseorang kepada takdir membuatnya menerima hasil dari semua usahanya, baik sesuai dengan keinginannyaa atau tidak.

Keimanaan kepada takdir yang berlaku bagi dirinya setelah melakukan ikhtiar manusiawi adalah puncak keimanan. kebaikan dan keburukan yang menimpa tidak membuatnya berpaling dari menempuh jalan positif menuju kebaikan. Memilih takdir baik adalah bagian dari ikhtiar yang dianjurakan dalam Islam.

Suatu ketika Umar bin Khattahab menginstruksikan pasukannya yang sedang melaksanakan oprasi militer agar berpindah dari tempat yang diindikasikan terkena epidemi kolera menuju tempat lain. Salah seoran g pasukan berkomentar, "Apakah anda ingin berlari dari taqdir Allah, Wahai Umar?" Khalifah kedua ini menjawab, "Ya, kita berlari dari Takdir Allah menuju taqdir Allah."

Sangat sejalan dengan apa yang dianjurkan Rasulullah saw.,

عَنْ عِمْرَانَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فِيمَا يَعْمَلُ الْعَامِلُونَ قَالَ كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ
Imran bertanya,"Ya Rasulullah, untuk orang-orang beramal? " beliau menjawab, ' Masing-masing orang akan dipermudah menuju takdirnya." (MuttafaqAlaihi)

Ali Ra berkata, "Sesungguhnya salah seorang di antara kalian tidak bersih keimanan di dalam hatinya sampai dia yakin seyakin yakinnya dan tidak ragu sedikit pun, bahwa apa yang menimpa dirinya bukan karena kesalahan yang dilakukannya dan kesalahan yang dilakukan tidak menyebabkannya tertimpa musibah serta meyakini semua takdir yag terjadi."

Dus, ketika benih telah disemai, air telah disiramkan, pupuk telah ditebar, berdoalah. lalu Apapun yang dihasilkan, terimalah dengan penuh ketulusan sebagai karunia Zat yang mengeluarkan buah dari bunganya. Walllahu A 'alam 

Sumber :






Yang lainnya please

Related Posts with Thumbnails